Saturday, April 28, 2007

LAHAN BASAH PENTING DI BEKASI

LAHAN BASAH PENTING DI BEKASI

LETAK GEOGRAFIS DAN BATAS WILAYAH

Secara administratif, Kabupaten Bekasi adalah salah satu daerah tingkat II propinsi Jawa Barat. Bekasi secara definitif resmi menjadi kabupaten pada tanggal 15 Agustus 1950 dengan luas wilayah 1.273,88 km2 yang terbagi ke dalam 23 kecamatan. Dengan batas-batas wilayah: di sebelah barat berbatasan dengan DKI Jakarta, di sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Karawang, Sebelah utara berbatasan dengan Teluk Jakarta (Laut Jawa) dan sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Bogor. Sedangkan Kawasan pesisir Bekasi meliputi empat Kecamatan yaitu Kecamatan Taruma Jaya, Kecamatan Babelan, Kecamatan Muara Gembong dan Kecamatan Cabang Bungin yang berbatasan langsung dengan DKI Jakarta di sebelah baratnya, Kabupaten Karawang di sebelah timur, Laut Jawa di sebelah utara dan Kota Bekasi di sebelah selatan.

Kawasan pesisir Kabupaten Bekasi memiliki kawasan dengan struktur vegetasi hutan pantai alami terbentang di sepanjang pantai utara, keberadaan kawasan hutan pantai, rawa dan persawahan yang sangat penting sebagai daerah perlindungan dan daerah penunjang keberadaan satwa liar terutama beberapa jenis burung air dan beberapa diantaranya termasuk burung air migran, yaitu burung yang setiap tahun berpindah karena faktor musim dan faktor-faktor lainnya.

BEBERAPA TIPE LAHAN BASAH DI BEKASI

Rawa

Rawa Nipah dan rawa Glagah terletak di kawasan Tanjung Air merupakan kawasan yang masih cukup luas dan terjaga dengan baik, tetapi potensi hilangnya kawasan sangat tinggi, karena kawasan rawa di Tanjung air dianggap kawasan tidak produktif secara ekonomi. Kemungkinan besar akan terkonversi dengan peruntukan perumahan dan industri. Padahal kawasan ini adalah kawasan inti habitat seluruh burung air dan satwa liar lainnya serta mempunyai fungsi sebagai penyerapan air tanah yang cukup baik dan penting untuk dilindungi.

Hutan Mangrove

Jenis-jenis mangrove yang tumbuh di Bekasi antara lain Avicennia sp., Bruguiera sp., Rhizophora sp. dan Sonneratia sp. Selain burung air yang memanfaatkan mangrove sebagai habitat ada berbagai jenis satwa baik vertebrata maupun invertebrata yang khas dan telah beradaptasi dengan kondisi lingkungan mangrove antara lain ikan, molusca, udang, kepiting, biawak, ular, insekta dan monyet.

Hutan mangrove di kawasan pesisir Bekasi telah mengalami penyusutan yang sangat drastis, tersisa luasan yang sangat sempit dan terfragmentasi dan hanya memiliki ketebalan 20-50 meter saja. Penyusutan hutan mangrove lebih umum disebabkan dari aktivitas alih fungsi lahan menjadi areal pertambakan oleh masyarakat. Hutan mangrove yang masih tersisa terdapat di sepanjang pantai dari Muara Tawar sampai ke Muara Bungin, walaupun demikian kawasan mangrove tidak dapat berfungsi maksimal baik secara ekologis maupun secara ekonomi.

Dataran Lumpur atau Mudflat

Hampir sepanjang pantai kawasan Bekasi merupakan daerah mudflat yang cukup luas. Penduduk sekitar lebih kerap menyebut daerah ini dengan "tanah timbul". Di daerah dataran lumpur inilah biasanya nelayan akan memasang jaring dengan ketinggian kurang lebih 1 sampai 2 meter untuk menangkap ikan. Pada saat air laut pasang ikan-ikan akan bebas keluar masuk ke daerah jaring namun setelah air laut surut ikan tidak bisa keluar karena terperangkap di dalam daerah jaring, saat itulah para nelayan akan mengambil hasil tangkapannya. Pada saat ini pula biasanya burung air dalam jumlah yang cukup banyak memanfaatkan hasil tangkapan yang masih tertinggal yang tidak terambil oleh nelayan.

Sawah

Bekasi terkenal sebagai lumbung padi untuk memenuhi kebutuhan beras, baik untuk penduduk Jawa Barat maupun luar Pulau Jawa, luas daerah persawahan adalah 56.227 ha (Tim LITBANG KOMPAS, 2001). Predikat sebagai lumbung padi perlu tetap dijaga dengan baik yaitu dengan tetap mempertahankan daerah persawahan yang ada serta pemanfaatan teknologi pertanian yang berwawasan lingkungan. Namun kini karena adanya tekanan jumlah penduduk dan pembangunan industri maka sawah-sawah yang ada juga terkena imbas. Luas daerah persawahan menurun akibat beralih fungsi menjadi lahan pemukiman dan kawasan-kawasan industri.

Tambak

Tambak adalah salah satu lahan basah buatan yang dimanfaatkan untuk budidaya jenis-jenis yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Pemanfaatan tambak perlu dikelola sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu keseimbangan ekosistem lahan basah lainnya. Proses ini cukup sulit dilakukan karena akan berbenturan dengan kebutuhan ekonomi masyarakat sedangkan fungsi dan peranan kawasan lahan basah seperti hutan mangrove, rawa Nipah dan Glagah sebagai kawasan perlindungan, pelestarian dan pengawetan juga perlu diperhatikan.

Kawasan pesisir Bekasi memiliki areal tambak yang sangat luas yang dulunya adalah kawasan hutan mangrove yang dialih fungsi. Tambak terdapat di seluruh kawasan pesisir Bekasi dari Muara Tawar sampai Muara Gembong memanjang sampai ke Karawang. Hampir seluruh kawasan hutan mangrove yang ada di sepanjang pantai utara pulau Jawa dialih fungsi sebagai daerah pertambakan walaupun juga dialih fungsi menjadi perumahan, pelabuhan, tempat wisata dan lain-lain tetapi tidak sebesar alih fungsi hutan mangrove menjadi daerah pertambakan.

AKSESIBILITAS

Terdapat beberapa alternatif transportasi untuk menuju ke kawasan pesisir Bekasi. Berupa akses melalui darat ataupun akses melalui jalur air. Jalan-jalan umum telah tersedia dan dapat dilalui kendaraan beroda dua maupun beroda empat, untuk akses ke pelosok tetap harus menggunakan kendaraan roda dua atau hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Dari kota Bekasi, perjalanan dapat ditempuh kurang lebih 2 jam atau kurang lebih 30 km untuk sampai ke Tanjung Air atau sampai kecamatan Muara Gembong menggunakan kendaraan umum (angkutan umum dan ojek motor). untuk akses ke Muara Gembong jika menggunakan kendaraan roda empat harus melalui jalan memutar dari Cikarang kurang lebih berjarak 40 km. Untuk mempermudah akses, dari Jakarta dengan transportasi air dari Cilincing yang secara rutin digunakan sebagai angkutan umum masyarakat untuk ke kawasan Muara Gembong ataupun ke Tanjung Air.

KEKAYAAN FLORA DAN FAUNA

Kawasan pesisir Bekasi menyimpan potensi kekayaan flora dan fauna yang cukup tinggi. Sedikitnya terdapat 165 jenis burung. Selain burung, terdapat juga satwaliar lain seperti jenis-jenis reptil antara lain terdapat Biawak (Varanus salvator), jenis-jenis mamalia seperti Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), Lutung (Trachypithecus auratus), Sero (Aonyx cinerea), Babi (Sus sp.), Kucing bakau (Felis viverrina), Linsang (Prionodon linsang).

Sedikitnya terdapat lima tipe ekosistem lahan basah yang dapat dijumpai di kawasan ini antara lain hutan mangrove, dataran lumpur dan rawa payau serta lahan basah buatan berupa sawah, dan tambak.

Vegetasi-vegetasi lahan basah seperti mangrove umumnya dapat dijumpai dipinggir-pinggir pantai dengan luas yang sangat sempit dan terfragmentasi di sepanjang pantai dengan ketebalan berkisar 20-50 meter, jenis mangrove yang umum dijumpai adalah Api-api (Avicennia marina dan Avicennia alba), Bakau (Rhizophora mucronata), Pidada (Sonneratia ovata dan Sonneratia caseolaris), Nipah (Nypa fruticans) dan beberapa berupa semak seperti Jeruju (Acanthus illicifolius). Vegetasi rawa payau yang masih sangat luas terdapat di beberapa tempat seperti yang terletak di Pondok Dua-Tanjung Air dan sepanjang Sungai Kramat, umumnya didominasi Nipah (Nypa fruticans) dan Glagah (Phragmites karka).

Hidup beberapa jenis burung endemik dalam jumlah besar, Bubut Jawa (Centropus nigrorufus) merupakan salah satu jenis burung endemik Jawa dan terancam punah yang memanfaatkan daerah dekat hutan mangove. Perkiraan jumlah keseluruhan populasi Bubut Jawa dapat mencapai lebih dari 300 ekor di seluruh kawasan yang tersisa seperti di Muara Sembilangan, Tanjung Air dan Muara Gembong. Gelatik Jawa (Padda oryzivora) burung endemik dan terancam punah sudah sangat sulit dijumpai di kawasan pesisir Bekasi. Bondol Oto-hitam (Lonchura ferruginosa) sering terlihat bercampur dengan kelompok Bondol yang lain. Kacamata Jawa (Zoosterops flavus) hinggap di ranting-ranting bakau, Cerek Jawa (Charadrius javanicus) Burung pantai endemik Jawa pun dapat dijumpai melimpah.

Bluwok (Mycteria cinerea) salah satu jenis burung yang terancam punah, terlihat dalam jumlah mencapai 50-60 individu sedang mencari makan di sekitar Muara CBL, Muara Nawan, Muara Mati dan Muara Bungin.

Bangau bluwok (Mycteria cinerea) adalah salah satu dari 7 anggota keluarga burung bangau (Ciconiidae) yang terdapat di Indonesia. Statusnya dilindungi oleh pemerintah RI berdasarkan SK Mentan No. 742/Kpts/Um/12/1978 dan Peraturan pemerintah No. 7 tahun 1999. Diperkirakan populasinya hanya tersisa 6100 ekor saja di dunia. Kira-kira 6000 ekor atau 98% tersebar di kepulauan Indonesia yaitu Sumatera, Jawa, Sulawesi dan Nusa Tenggara.

Lokasi berbiak di Jawa tercatat di Suaka Margasatwa Pulau Rambut, Jakarta; Sumatera terdapat di Cagar Alam Hutan Bakau Pantai Timur, Jambi; Tanjung Koyan, Tanjung Selokan dan Tanjung Banyuasin di Sumatera Selatan.

Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) terlihat hingga jumlah ratusan, Lutung (Trachypithecus auratus) dalam kelompok yang cukup besar (50 sampai 60 individu), Babi (Sus sp.), dan Sero (Aonyx cinerea) juga dapat dijumpai di daerah hutan rawa Sungai Kramat sampai ke sekitaran hutan daerah Penombo. Bahkan di kawasan ini pernah dijumpai Trulek Jawa (Vanellus macropterus), jenis yang telah dinyatakan punah karena kurangnya survei dan data kecuali data terakhir tahun 1940, serta dengan masih banyaknya jenis ikan, reptil dan amphibi yang masih perlu dilakukan inventarisasi lebih lanjut.