LAHAN BASAH PENTING DI BEKASI
LETAK GEOGRAFIS DAN BATAS WILAYAH
Secara administratif, Kabupaten Bekasi adalah salah satu daerah tingkat II propinsi Jawa Barat. Bekasi secara definitif resmi menjadi kabupaten pada tanggal 15 Agustus 1950 dengan luas wilayah 1.273,88 km2 yang terbagi ke dalam 23 kecamatan. Dengan batas-batas wilayah: di sebelah barat berbatasan dengan DKI Jakarta, di sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Karawang, Sebelah utara berbatasan dengan Teluk Jakarta (Laut Jawa) dan sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Bogor. Sedangkan Kawasan pesisir Bekasi meliputi empat Kecamatan yaitu Kecamatan Taruma Jaya, Kecamatan Babelan, Kecamatan Muara Gembong dan Kecamatan Cabang Bungin yang berbatasan langsung dengan DKI Jakarta di sebelah baratnya, Kabupaten Karawang di sebelah timur, Laut Jawa di sebelah utara dan Kota Bekasi di sebelah selatan.
Kawasan pesisir Kabupaten Bekasi memiliki kawasan dengan struktur vegetasi hutan pantai alami terbentang di sepanjang pantai utara, keberadaan kawasan hutan pantai, rawa dan persawahan yang sangat penting sebagai daerah perlindungan dan daerah penunjang keberadaan satwa liar terutama beberapa jenis burung air dan beberapa diantaranya termasuk burung air migran, yaitu burung yang setiap tahun berpindah karena faktor musim dan faktor-faktor lainnya.
BEBERAPA TIPE LAHAN BASAH DI BEKASI
Rawa
Rawa Nipah dan rawa Glagah terletak di kawasan Tanjung Air merupakan kawasan yang masih cukup luas dan terjaga dengan baik, tetapi potensi hilangnya kawasan sangat tinggi, karena kawasan rawa di Tanjung air dianggap kawasan tidak produktif secara ekonomi. Kemungkinan besar akan terkonversi dengan peruntukan perumahan dan industri. Padahal kawasan ini adalah kawasan inti habitat seluruh burung air dan satwa liar lainnya serta mempunyai fungsi sebagai penyerapan air tanah yang cukup baik dan penting untuk dilindungi.
Hutan Mangrove
Jenis-jenis mangrove yang tumbuh di Bekasi antara lain Avicennia sp., Bruguiera sp., Rhizophora sp. dan Sonneratia sp. Selain burung air yang memanfaatkan mangrove sebagai habitat ada berbagai jenis satwa baik vertebrata maupun invertebrata yang khas dan telah beradaptasi dengan kondisi lingkungan mangrove antara lain ikan, molusca, udang, kepiting, biawak, ular, insekta dan monyet.
Hutan mangrove di kawasan pesisir Bekasi telah mengalami penyusutan yang sangat drastis, tersisa luasan yang sangat sempit dan terfragmentasi dan hanya memiliki ketebalan 20-50 meter saja. Penyusutan hutan mangrove lebih umum disebabkan dari aktivitas alih fungsi lahan menjadi areal pertambakan oleh masyarakat. Hutan mangrove yang masih tersisa terdapat di sepanjang pantai dari Muara Tawar sampai ke Muara Bungin, walaupun demikian kawasan mangrove tidak dapat berfungsi maksimal baik secara ekologis maupun secara ekonomi.
Dataran Lumpur atau Mudflat
Hampir sepanjang pantai kawasan Bekasi merupakan daerah mudflat yang cukup luas. Penduduk sekitar lebih kerap menyebut daerah ini dengan "tanah timbul". Di daerah dataran lumpur inilah biasanya nelayan akan memasang jaring dengan ketinggian kurang lebih 1 sampai 2 meter untuk menangkap ikan. Pada saat air laut pasang ikan-ikan akan bebas keluar masuk ke daerah jaring namun setelah air laut surut ikan tidak bisa keluar karena terperangkap di dalam daerah jaring, saat itulah para nelayan akan mengambil hasil tangkapannya. Pada saat ini pula biasanya burung air dalam jumlah yang cukup banyak memanfaatkan hasil tangkapan yang masih tertinggal yang tidak terambil oleh nelayan.
Sawah
Bekasi terkenal sebagai lumbung padi untuk memenuhi kebutuhan beras, baik untuk penduduk Jawa Barat maupun luar Pulau Jawa, luas daerah persawahan adalah 56.227 ha (Tim LITBANG KOMPAS, 2001). Predikat sebagai lumbung padi perlu tetap dijaga dengan baik yaitu dengan tetap mempertahankan daerah persawahan yang ada serta pemanfaatan teknologi pertanian yang berwawasan lingkungan. Namun kini karena adanya tekanan jumlah penduduk dan pembangunan industri maka sawah-sawah yang ada juga terkena imbas. Luas daerah persawahan menurun akibat beralih fungsi menjadi lahan pemukiman dan kawasan-kawasan industri.
Tambak
Tambak adalah salah satu lahan basah buatan yang dimanfaatkan untuk budidaya jenis-jenis yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Pemanfaatan tambak perlu dikelola sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu keseimbangan ekosistem lahan basah lainnya. Proses ini cukup sulit dilakukan karena akan berbenturan dengan kebutuhan ekonomi masyarakat sedangkan fungsi dan peranan kawasan lahan basah seperti hutan mangrove, rawa Nipah dan Glagah sebagai kawasan perlindungan, pelestarian dan pengawetan juga perlu diperhatikan.
Kawasan pesisir Bekasi memiliki areal tambak yang sangat luas yang dulunya adalah kawasan hutan mangrove yang dialih fungsi. Tambak terdapat di seluruh kawasan pesisir Bekasi dari Muara Tawar sampai Muara Gembong memanjang sampai ke Karawang. Hampir seluruh kawasan hutan mangrove yang ada di sepanjang pantai utara pulau Jawa dialih fungsi sebagai daerah pertambakan walaupun juga dialih fungsi menjadi perumahan, pelabuhan, tempat wisata dan lain-lain tetapi tidak sebesar alih fungsi hutan mangrove menjadi daerah pertambakan.
AKSESIBILITAS
Terdapat beberapa alternatif transportasi untuk menuju ke kawasan pesisir Bekasi. Berupa akses melalui darat ataupun akses melalui jalur air. Jalan-jalan umum telah tersedia dan dapat dilalui kendaraan beroda dua maupun beroda empat, untuk akses ke pelosok tetap harus menggunakan kendaraan roda dua atau hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki.
Dari kota Bekasi, perjalanan dapat ditempuh kurang lebih 2 jam atau kurang lebih 30 km untuk sampai ke Tanjung Air atau sampai kecamatan Muara Gembong menggunakan kendaraan umum (angkutan umum dan ojek motor). untuk akses ke Muara Gembong jika menggunakan kendaraan roda empat harus melalui jalan memutar dari Cikarang kurang lebih berjarak 40 km. Untuk mempermudah akses, dari Jakarta dengan transportasi air dari Cilincing yang secara rutin digunakan sebagai angkutan umum masyarakat untuk ke kawasan Muara Gembong ataupun ke Tanjung Air.
KEKAYAAN FLORA DAN FAUNA
Kawasan pesisir Bekasi menyimpan potensi kekayaan flora dan fauna yang cukup tinggi. Sedikitnya terdapat 165 jenis burung. Selain burung, terdapat juga satwaliar lain seperti jenis-jenis reptil antara lain terdapat Biawak (Varanus salvator), jenis-jenis mamalia seperti Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), Lutung (Trachypithecus auratus), Sero (Aonyx cinerea), Babi (Sus sp.), Kucing bakau (Felis viverrina), Linsang (Prionodon linsang).
Sedikitnya terdapat lima tipe ekosistem lahan basah yang dapat dijumpai di kawasan ini antara lain hutan mangrove, dataran lumpur dan rawa payau serta lahan basah buatan berupa sawah, dan tambak.
Vegetasi-vegetasi lahan basah seperti mangrove umumnya dapat dijumpai dipinggir-pinggir pantai dengan luas yang sangat sempit dan terfragmentasi di sepanjang pantai dengan ketebalan berkisar 20-50 meter, jenis mangrove yang umum dijumpai adalah Api-api (Avicennia marina dan Avicennia alba), Bakau (Rhizophora mucronata), Pidada (Sonneratia ovata dan Sonneratia caseolaris), Nipah (Nypa fruticans) dan beberapa berupa semak seperti Jeruju (Acanthus illicifolius). Vegetasi rawa payau yang masih sangat luas terdapat di beberapa tempat seperti yang terletak di Pondok Dua-Tanjung Air dan sepanjang Sungai Kramat, umumnya didominasi Nipah (Nypa fruticans) dan Glagah (Phragmites karka).
Hidup beberapa jenis burung endemik dalam jumlah besar, Bubut Jawa (Centropus nigrorufus) merupakan salah satu jenis burung endemik Jawa dan terancam punah yang memanfaatkan daerah dekat hutan mangove. Perkiraan jumlah keseluruhan populasi Bubut Jawa dapat mencapai lebih dari 300 ekor di seluruh kawasan yang tersisa seperti di Muara Sembilangan, Tanjung Air dan Muara Gembong. Gelatik Jawa (Padda oryzivora) burung endemik dan terancam punah sudah sangat sulit dijumpai di kawasan pesisir Bekasi. Bondol Oto-hitam (Lonchura ferruginosa) sering terlihat bercampur dengan kelompok Bondol yang lain. Kacamata Jawa (Zoosterops flavus) hinggap di ranting-ranting bakau, Cerek Jawa (Charadrius javanicus) Burung pantai endemik Jawa pun dapat dijumpai melimpah.
Bluwok (Mycteria cinerea) salah satu jenis burung yang terancam punah, terlihat dalam jumlah mencapai 50-60 individu sedang mencari makan di sekitar Muara CBL, Muara Nawan, Muara Mati dan Muara Bungin.
Bangau bluwok (Mycteria cinerea) adalah salah satu dari 7 anggota keluarga burung bangau (Ciconiidae) yang terdapat di Indonesia. Statusnya dilindungi oleh pemerintah RI berdasarkan SK Mentan No. 742/Kpts/Um/12/1978 dan Peraturan pemerintah No. 7 tahun 1999. Diperkirakan populasinya hanya tersisa 6100 ekor saja di dunia. Kira-kira 6000 ekor atau 98% tersebar di kepulauan Indonesia yaitu Sumatera, Jawa, Sulawesi dan Nusa Tenggara.
Lokasi berbiak di Jawa tercatat di Suaka Margasatwa Pulau Rambut, Jakarta; Sumatera terdapat di Cagar Alam Hutan Bakau Pantai Timur, Jambi; Tanjung Koyan, Tanjung Selokan dan Tanjung Banyuasin di Sumatera Selatan.
Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) terlihat hingga jumlah ratusan, Lutung (Trachypithecus auratus) dalam kelompok yang cukup besar (50 sampai 60 individu), Babi (Sus sp.), dan Sero (Aonyx cinerea) juga dapat dijumpai di daerah hutan rawa Sungai Kramat sampai ke sekitaran hutan daerah Penombo. Bahkan di kawasan ini pernah dijumpai Trulek Jawa (Vanellus macropterus), jenis yang telah dinyatakan punah karena kurangnya survei dan data kecuali data terakhir tahun 1940, serta dengan masih banyaknya jenis ikan, reptil dan amphibi yang masih perlu dilakukan inventarisasi lebih lanjut.
Saturday, April 28, 2007
ISU KONSERVASI LAHAN BASAH BEKASI
KEHILANGAN DAN DEGRADASI LAHAN BASAH
Konversi Untuk Tambak, Pertanian, Infrastruktur dan Pembangunan
Alih fungsi hutan mangrove menjadi sawah dan tambak bisa dikatakan sebagai salah satu penyebab utama menurunnya luasan lahan basah di Bekasi. Sebagian besar kawasan pesisir Bekasi telah menjadi kawasan pertambakan. Muara Bendera sampai Muara Bungin adalah salah satu kawasan yang telah berubah menjadi areal tambak yang cukup luas dan areal pemukiman nelayan.
Pencemaran
Dampak pencemaran limbah terhadap penurunan populasi burung air di kawasan pesisir Bekasi belum diteliti lebih lanjut. Tetapi kemungkinan besar mempengaruhi terhadap tingkat kesuksesan burung air dalam bereproduksi yang berakibat pada penurunan populasi. Berdasarkan informasi masyarakat yang memiliki tambak mengatakan bahwa akumulasi pencemaran limbah di sungai CBL telah melampaui batas (tidak secara kuantitatif), dengan mengambil indikator tingkat kesuksesan produksi tambak menurun dan bahkan gagal panen karena ikan dan udang yang ditanam mati.
Sungai atau DAS CBL (Cikarang Bekasi Laut) merupakan muara aliran sungai dari Cikarang dimana pada hulu (sepanjang Cikarang – Bekasi) terdapat industri-industri besar yang membuang limbahnya ke sungai CBL. Pembuangan limbah ke sungai-sungai utama ini perlu diperhatikan karena dapat mengganggu lingkungan dan masyarakat yang hidup bergantung pada keberadaan sungai yang bersih.
Gangguan
Walaupun secara tidak langsung, kegiatan pemancingan terkadang mengganggu habitat burung air. Kegiatan pemancingan merupakan salah satu kegiatan rekreasi yang paling murah. Umumnya pemancing berasal dari daerah sekitar. Biasanya areal pemancingan merupakan tambak-tambak yang tidak diurus dan daerah rawa-rawa mangrove yang menjadi habitat inti burung air.
Para pemancing secara tidak sengaja telah mengganggu habitat burung air, mereka masuk ke kawasan lokasi penting burung air yang terkadang mengganggu ketenangan burung air. Sehingga setelah terusik oleh kedatangan para pemancing tersebut, burung air pindah ke lokasi lain yang juga telah terganggu karena adanya pemancing.
Penangkapan ikan dengan cara diracun juga telah meningkatkan pencemaran terhadap kawasan lahan basah dan mengganggu keseimbangan komposisi kimia di lingkungan perairan lahan basah tersebut.
Gangguan-gangguan lain juga sering terjadi seperti penebangan kayu untuk membuka jalur-jalur air dan transportasi serta pembukaan lahan untuk pembuatan rumah telah menyebabkan fragmentasi pada kawasan hutan yang masih tersisa.
KAWASAN KONSERVASI DAN PENGELOLAANNYA
Kelemahan Pengelolaan Kawasan Lindung
Kawasan lahan basah di pesisir Bekasi termasuk kedalam kawasan yang harus dilindungi. Menurut SK Menteri Pertanian No. 92/Um/54, tanggal 31 Agustus 1954 menunjuk hutan-hutan dan atau kelompok-kelompok hutan yang terletak di bekas tanah-tanah partikelir Tjabangbungin (Ujungkrawang), Babelan, Pangkalan, Pondok Tengah dan terusan termasuk dalam wilayah Propinsi Djawa Barat, Karesidenan Djakarta dan Kabupaten Bekasi, yang tersusun di bawah ini untuk dijadikan hutan-hutan terpelihara (hutan-hutan tetap) dibawah penguasaan Hutan Djakarta-Bogor.
Luas kawasan hutan BKPH Ujungkrawang berdasarkan Proses Perbal Tata Batas Hutan adalah 10.481,15 ha., berdasarkan wilayah kecamatan terdiri atas: Kecamatan Muara Gembong seluas 9.049,90 ha, Kecamatan Cabang Bungin seluas 850,00 ha., Kecamatan Tarumajaya seluas 143,75 ha. dan Kecamatan Babelan seluas 437,50 ha tetapi dalam pelaksanaannya belum dapat dijalankan dengan baik. Apalagi ditambah dengan masih adanya konflik penggunaan hak atas tanah yang belum jelas menambah permasalahan dan menyebabkan pengelolaan kawasan cukup sulit dilakukan dengan baik.
EKSPLOITASI BERLEBIH
Perburuan
Kegiatan perburuan terhadap burung air di kawasan pesisir Bekasi masih tergolong cukup tinggi. Burung-burung air ini ditangkap untuk kemudian dijual atau dimanfaatkan untuk keperluan konsumsi sendiri. Bahkan masyarakat sering mengambil anakan burung air untuk keperluan dipelihara dan kemudian dijual. Jenis-jenis yang umum ditangkap untuk dijual adalah jenis – jenis burung mandar, belibis, dan kuntul. Berdasarkan wawancara langsung dengan penjualnya hampir seluruh jenis burung air yang tertangkap apapun jenisnya kemudian dijual dengan kisaran harga Rp.15.000,- pertiga ekor.
KESENJANGAN PENGETAHUAN
Data Keanekaragaman Hayati Yang Tidak Memadai
Inventarisasi dan pemantauan potensi keanekaragaman hayati di kawasan lahan basah Bekasi belum dilakukan secara detail sehingga berbagai kalangan termasuk masyarakat dan pemerintah belum mengetahui potensi yang ada di kawasan untuk kemudian dijabarkan dalam perencanaan dan pengelolaan kawasan berbasis pembangunan yang berkelanjutan dengan memperhatikan keseimbangan lingkungan. Minimnya pengetahuan ini menyebabkan berbagai kegiatan pembangunan yang ada justru dapat merusak potensi keanekaragaman hayati yang tinggi yang dimiliki kawasan pesisir Bekasi.
SOLUSI
Menyadari hal tersebut satu langkah penting harus diambil untuk penyelamatan lahan basah penting di kawasan pesisir Bekasi. Salah satu cara adalah melalui program pendampingan masyarakat serta program aksi penyelematana kawasan, bersama masyarakat, pemerintah daerah Bekasi, swasta dan instansi terkait lainnya serta lembaga swadaya masyarakat yang memiliki kepentingan dalam pelestarian dan pemanfaatan lahan basah secara lestari serta berkepentingan dalam pelestarian satwa terancam di pesisir Bekasi. Program ini bertujuan untuk menggalang langkah strategis guna pelestarian lahan basah dengan menyatukan semua elemen dan partisipasi segala bidang, pendidikan, informasi dan sosialisasi program.
Konversi Untuk Tambak, Pertanian, Infrastruktur dan Pembangunan
Alih fungsi hutan mangrove menjadi sawah dan tambak bisa dikatakan sebagai salah satu penyebab utama menurunnya luasan lahan basah di Bekasi. Sebagian besar kawasan pesisir Bekasi telah menjadi kawasan pertambakan. Muara Bendera sampai Muara Bungin adalah salah satu kawasan yang telah berubah menjadi areal tambak yang cukup luas dan areal pemukiman nelayan.
Pencemaran
Dampak pencemaran limbah terhadap penurunan populasi burung air di kawasan pesisir Bekasi belum diteliti lebih lanjut. Tetapi kemungkinan besar mempengaruhi terhadap tingkat kesuksesan burung air dalam bereproduksi yang berakibat pada penurunan populasi. Berdasarkan informasi masyarakat yang memiliki tambak mengatakan bahwa akumulasi pencemaran limbah di sungai CBL telah melampaui batas (tidak secara kuantitatif), dengan mengambil indikator tingkat kesuksesan produksi tambak menurun dan bahkan gagal panen karena ikan dan udang yang ditanam mati.
Sungai atau DAS CBL (Cikarang Bekasi Laut) merupakan muara aliran sungai dari Cikarang dimana pada hulu (sepanjang Cikarang – Bekasi) terdapat industri-industri besar yang membuang limbahnya ke sungai CBL. Pembuangan limbah ke sungai-sungai utama ini perlu diperhatikan karena dapat mengganggu lingkungan dan masyarakat yang hidup bergantung pada keberadaan sungai yang bersih.
Gangguan
Walaupun secara tidak langsung, kegiatan pemancingan terkadang mengganggu habitat burung air. Kegiatan pemancingan merupakan salah satu kegiatan rekreasi yang paling murah. Umumnya pemancing berasal dari daerah sekitar. Biasanya areal pemancingan merupakan tambak-tambak yang tidak diurus dan daerah rawa-rawa mangrove yang menjadi habitat inti burung air.
Para pemancing secara tidak sengaja telah mengganggu habitat burung air, mereka masuk ke kawasan lokasi penting burung air yang terkadang mengganggu ketenangan burung air. Sehingga setelah terusik oleh kedatangan para pemancing tersebut, burung air pindah ke lokasi lain yang juga telah terganggu karena adanya pemancing.
Penangkapan ikan dengan cara diracun juga telah meningkatkan pencemaran terhadap kawasan lahan basah dan mengganggu keseimbangan komposisi kimia di lingkungan perairan lahan basah tersebut.
Gangguan-gangguan lain juga sering terjadi seperti penebangan kayu untuk membuka jalur-jalur air dan transportasi serta pembukaan lahan untuk pembuatan rumah telah menyebabkan fragmentasi pada kawasan hutan yang masih tersisa.
KAWASAN KONSERVASI DAN PENGELOLAANNYA
Kelemahan Pengelolaan Kawasan Lindung
Kawasan lahan basah di pesisir Bekasi termasuk kedalam kawasan yang harus dilindungi. Menurut SK Menteri Pertanian No. 92/Um/54, tanggal 31 Agustus 1954 menunjuk hutan-hutan dan atau kelompok-kelompok hutan yang terletak di bekas tanah-tanah partikelir Tjabangbungin (Ujungkrawang), Babelan, Pangkalan, Pondok Tengah dan terusan termasuk dalam wilayah Propinsi Djawa Barat, Karesidenan Djakarta dan Kabupaten Bekasi, yang tersusun di bawah ini untuk dijadikan hutan-hutan terpelihara (hutan-hutan tetap) dibawah penguasaan Hutan Djakarta-Bogor.
Luas kawasan hutan BKPH Ujungkrawang berdasarkan Proses Perbal Tata Batas Hutan adalah 10.481,15 ha., berdasarkan wilayah kecamatan terdiri atas: Kecamatan Muara Gembong seluas 9.049,90 ha, Kecamatan Cabang Bungin seluas 850,00 ha., Kecamatan Tarumajaya seluas 143,75 ha. dan Kecamatan Babelan seluas 437,50 ha tetapi dalam pelaksanaannya belum dapat dijalankan dengan baik. Apalagi ditambah dengan masih adanya konflik penggunaan hak atas tanah yang belum jelas menambah permasalahan dan menyebabkan pengelolaan kawasan cukup sulit dilakukan dengan baik.
EKSPLOITASI BERLEBIH
Perburuan
Kegiatan perburuan terhadap burung air di kawasan pesisir Bekasi masih tergolong cukup tinggi. Burung-burung air ini ditangkap untuk kemudian dijual atau dimanfaatkan untuk keperluan konsumsi sendiri. Bahkan masyarakat sering mengambil anakan burung air untuk keperluan dipelihara dan kemudian dijual. Jenis-jenis yang umum ditangkap untuk dijual adalah jenis – jenis burung mandar, belibis, dan kuntul. Berdasarkan wawancara langsung dengan penjualnya hampir seluruh jenis burung air yang tertangkap apapun jenisnya kemudian dijual dengan kisaran harga Rp.15.000,- pertiga ekor.
KESENJANGAN PENGETAHUAN
Data Keanekaragaman Hayati Yang Tidak Memadai
Inventarisasi dan pemantauan potensi keanekaragaman hayati di kawasan lahan basah Bekasi belum dilakukan secara detail sehingga berbagai kalangan termasuk masyarakat dan pemerintah belum mengetahui potensi yang ada di kawasan untuk kemudian dijabarkan dalam perencanaan dan pengelolaan kawasan berbasis pembangunan yang berkelanjutan dengan memperhatikan keseimbangan lingkungan. Minimnya pengetahuan ini menyebabkan berbagai kegiatan pembangunan yang ada justru dapat merusak potensi keanekaragaman hayati yang tinggi yang dimiliki kawasan pesisir Bekasi.
SOLUSI
Menyadari hal tersebut satu langkah penting harus diambil untuk penyelamatan lahan basah penting di kawasan pesisir Bekasi. Salah satu cara adalah melalui program pendampingan masyarakat serta program aksi penyelematana kawasan, bersama masyarakat, pemerintah daerah Bekasi, swasta dan instansi terkait lainnya serta lembaga swadaya masyarakat yang memiliki kepentingan dalam pelestarian dan pemanfaatan lahan basah secara lestari serta berkepentingan dalam pelestarian satwa terancam di pesisir Bekasi. Program ini bertujuan untuk menggalang langkah strategis guna pelestarian lahan basah dengan menyatukan semua elemen dan partisipasi segala bidang, pendidikan, informasi dan sosialisasi program.
Friday, April 27, 2007
FUNGSI PENTING LAHAN BASAH BEKASI
Sumber Plasma Nutfah dan Habitat Burung Air
Pesisir Bekasi hidup sedikitnya 164 jenis burung. Selain burung terdapat juga satwaliar lainnya seperti jenis-jenis reptil antara lain terdapat biawak (Varanus salvator), jenis-jenis mamalia seperti Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), Lutung (Trachypithecus auratus), Sero (Aonyx cinerea), Babi (Sus sp.), Kucing bakau (Felis viverrina) dan Linsang (Prionodon linsang).
Keberadaan lahan basah pesisir Bekasi perlu dilindungi untuk mempertahankan keberadaan spesies yang terancam punah dan dilindungi, seperti daerah hutan mangrove Muara Nawan - Sungai Kramat sampai ke rawa Tanjung Air serta Muara Sembilangan sampai ke rawa Nipah Utan Gedong.
Transit Burung Air Migran
Setiap tahun secara rutin berjuta-juta dan berbagai jenis burung air migran (pengelana antar negara dan benua menempuh perjalanan bolak-balik antara benua Asia dan Australia sepanjang ribuan kilometer. Selama perjalanan yang panjang burung pengembara tersebut singgah di berbagai tempat di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Diantaranya adalah lahan basah di pesisir Bekasi sebagai tempat persinggahan yang digunakan untuk menambah asupan makanan untuk meneruskan perjalanan ke selatan (Australia dan sekitarnya) antara lain dari berbagai jenis Kedidi, Trinil, Gajahan dan Dara laut. Hal ini menjadikan kawasan lahan basah di pesisir Bekasi mempunyai kepentingan internasional dalam usaha perlindungannya (Konvensi RAMSAR).
Lahan basah merupakan mata rantai yang penting bagi jalur migrasi. Sepanjang jalur terbang ini, burung pantai singgah di daerah tertentu dimana mereka dapat beristirahat dan mengumpulkan cadangan lemak untuk melanjutkan penerbangan mereka. Karena ketergantungannya pada lahan basah, maka pemeliharaan kawasan persinggahan ini merupakan kunci utama bagi burung air agar bertahan hidup karena lahan basah yang mereka singgahi menyediakan sumberdaya makanan yang melimpah serta menyediakan tempat bagi burung air untuk beristirahat selama migrasi.
Pemijahan Ikan dan Udang
Lahan basah seperti hutan mangrove berperan penting dalam siklus hidup berbagai jenis ikan, udang, kepiting dan moluska yang memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Hutan mangrove menyediakan perlindungan dan makanan berupa bahan-bahan organik yang masuk ke dalam rantai makanan. sehingga dapat menyediakan makanan untuk organisme yang hidup pada perairan sekitarnya dan lokasi asuhan yang baik bagi udang dan ikan. Kesinambungan fungsi tersebut dapat bermanfaat bagi kelangsungan berbagai jenis ikan dan udang yang bernilai ekonomi tinggi dan menjaga jumlah individu untuk terus dapat dimanfaatkan secara lestari oleh nelayan dari hasil perikanan alami.
Di Pesisir Bekasi tambak-tambak udang dan bandeng dikelola secara tradisional, tetapi sayangnya masih dikhawatirkan merusak ekosistem penting pendukung tambak seperti hutan mangrove. Hal tersebut disebabkan pembukaan kawasan hutan mangrove pelindung dengan cara pembabatan dan pembersihan kawasan hutan untuk pembuatan tambak.
Pengendap Lumpur, Penambat Racun dan Unsur Hara
Akar-akar mangrove mampu mengikat lumpur yang terbawa arus aliran air sehingga pengendapan secara berlebih ke dasar sungai dapat terkurangi. Beberapa jenis tumbuhan air mampu mereduksi senyawa-senyawa kimia berbahaya yang terbawa melalui aliran sungai yang disebabkan oleh limbah polutan hasil industri. Sehingga efek yang diakibatkan dari limbah dapat dikurangi.
Pelindung Terhadap Bencana Alam
Kawasan hutan bakau (mangrove) dan lahan basah lainnya merupakan pelindung dari serangan bencana abrasi, gelombang badai laut dan banjir yang sangat efektif. Hilangnya luasan hutan mangrove dan lahan basah menyebabkan potensi bencana tersebut makin besar dan dikhawatirkan akan dapat menyebabkan kerugian yang besar bagi masyarakat dan pembangunan di kawasan tersebut, mengingat setiap dampak dari bencana menimbulkan kerugian materil dan imateril yang tidak sedikit dari hasil investasi yang cukup besar.
Tegakan pohon mangrove mampu melindungi pemukiman, bangunan dan pertanian yang berada di daerah belakang zonasi hutan mangrove dari angin kencang atau intrusi air laut. Mangrove juga terbukti memainkan peran penting dalam melindungi pesisir dari gempuran badai, akar-akar mangrove mengurangi kekuatan badai, ombak dan arus yang mencegah atau mengurangi abrasi air laut ke daratan.
Selain mencegah abrasi, mangrove berperan juga dalam menangkap sedimentasi lumpur dan nutrisi hara yang terbawa oleh aliran sungai yang menuju ke laut. Lumpur tersebut akan ditangkap oleh akar-akar mangrove, sehingga lumpur tidak terbawa langsung ke laut yang dapat menghambat pertumbuhan terumbu karang.
Mencegah Pengikisan (Abrasi) dan Rembesan (Intrusi) Air Laut
Akibat dari hilangnya hutan mangrove ini bisa dilihat dari kawasan Marunda sampai ke Pantai Sederhana. Hilangnya hutan pantai/mangrove di kawasan ini, menyebabkan abrasi air laut sudah mencapai 200 meter dari garis pantai awal. Saat ini hutan pantai/mangrove di beberapa lokasi masih menyisakan hamparan hijau sebagai sabuk pengaman ekosistem seperti di sekitar Muara Sembilangan dan Muara Tawar, Muara Nawan, Muara Kuntul dan Muara Bendera bahkan sepanjang sungai Kramat dan sungai Labuh saat ini masih menyisakan hamparan tipis formasi hutan mangrove.
Sediaan air tanah juga perlu dipertahankan. Sediaan air tanah merupakan sumber air tawar yang dapat dikonsumsi oleh manusia dan makhluk hidup lainnya. Keberadaan hutan mangrove dan lahan basah lainnya dapat mempertahankan keberadaan lapisan air tanah tawar yang dapat mencegah / mengurangi masuknya air laut ke daratan. Sampai saat ini intrusi air laut sudah mencapai jarak lebih dari 1 kilometer sehingga dalam radius jarak tersebut air berasa payau. Hal ini disebabkan karena menyusutnya kawasan lahan basah di pesisir Bekasi.
Sarana Transportasi
Masyarakat di pesisir Bekasi memanfaatkan aliran sungai sebagai salah satu jalur alternatif transportasi yang mudah, relatif dekat dan cepat untuk menuju daerah tertentu.
Nelayan Udang, Ikan dan Pertanian Tambak
Beberapa jenis ikan dan udang yang memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi memanfaatkan daerah hutan mangrove sebagai tempat pemijahan. Terjaganya lahan basah seperti hutan mangrove berarti menjaga jumlah ikan dan udang yang hidup di daerah tersebut yang berarti pula mempertahankan jumlah hasil tangkap bagi nelayan. Kesinambungan fungsi tersebut dapat bermanfaat bagi kelangsungan berbagai jenis ikan dan udang yang bernilai ekonomi tinggi dan menjaga jumlah individu untuk terus dapat dimanfaatkan secara lestari oleh nelayan dari hasil perikanan alami.
Tambak adalah salah satu jenis lahan basah buatan yang dimanfaatkan sebagai tempat budidaya berbagai jenis udang dan ikan yang bernilai ekonomi tinggi. Tetapi perlu diperhatikan dari pengelolaan tambak adalah bagaimana tetap menjaga lahan basah alami seperti menjaga hutan-hutan mangrove sehingga produktifitas tambak tetap terjaga dengan baik dan tidak mengalami penurunan kualitas maupun kuantitas hasil yang akan dipanen oleh petani nanti.
Potensi Ekowisata yang Menarik
Kawasan lahan basah pesisir Bekasi memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri dibandingkan dengan tipe ekosistem lainnya. Pemandangan yang indah juga suasana yang berbeda merupakan tempat yang nyaman untuk melakukan kegiatan rekreasi..
Dari hasil identifikasi, kawasan pesisir Bekasi memiliki potensi untuk ekowisata, dan konservasi. Keunikan ekosistem lahan basah, keanekaragaman jenis satwa dan tumbuhan menjadi salah satu daya tarik untuk kegiatan :
- pengamatan satwa langka,
- pengamatan burung (birdwatching),
- wisata "photohunting",
- memancing,
- untuk petualangan yang menantang dapat dilakukan kegiatan menjelajah kawasan dengan berjalan kaki ataupun berperahu melalui jalur-jalur yang melalui hutan mangrove dan rawa-rawa.
Kemasan paket wisata yang menarik mampu menarik wisatawan mancanegara dan domestik dari kalangan profesi (peneliti, fotografer, dll), pelajar dan mahasiswa, para pengamat burung dan hidupan liar, pencinta alam terutama dari daerah Jakarta, Bekasi dan sekitarnya.
Keterlibatan Masyarakat Dan Strategi Pengembangan
Potensi ekowisata perlu didukung dengan tetap terjaganya kawasan lahan basah yang memiliki kekhasan dan keberagaman jenis yang cukup tinggi, penyediaan sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan ekowisata seperti pembuatan jalur pengamatan dan fasilitas, promosi dan penguatan sumber daya manusia serta peran aktif masyarakat setempat. Keterlibatan Masyarakat setempat perlu dikembangkan melalui pelatihan ketrampilan pengelolaan kawasan dalam rangka pemanfaatan sumber daya alam secara lestari dan berkelanjutan. Dengan pengelolaan wisata berbasis masyarakat, kawasan lahan basah di pesisir Bekasi mampu menarik wisatawan dalam dan luar negeri untuk menikmati keindahan dan keunikan alam yang ada. Selain memberikan pemasukan bagi pemerintah daerah juga menambah pendapatan bagi masyarakat sekitar.
Sarana Riset dan Edukasi
Kawasan Lahan basah adalah salah satu contoh bentang alam yang sangat unik dimana di dalamnya terdapat beranekaragam kehidupan. Kawasan lahan basah mampu memberikan contoh yang nyata bentuk dari berbagai interaksi tersebut dalam lingkup ilmu pengetahuan murni dari berbagai bidang ilmu antara lain biologi, geologi, fisika, kimia, ekonomi, budaya dan berbagai kajian ilmu lainnya.
DAFTAR JENIS FLORA DAN FAUNA DI KAWASAN LAHAN BASAH BEKASI
DAFTAR JENIS FLORA DAN FAUNA DI KAWASAN LAHAN BASAH BEKASI
BURUNG
NO. NAMA LATIN NAMA INGGRIS NAMA LOKAL KET
1 Puffinus pacificus Wedge-tailed Shearwater Penggunting-laut pasifik m
2 Oceanodroma monorhis Swinhoe's Storm-petrel Petrel badai Swinhoe m
3 Tachybaptus ruficollis Red-throated Little Grebe Titihan telaga
4 Fregata andrewsi Christmas Frigatebird Cikalang Christmas
5 Phalacrocorax sulcirostris Little Black Cormorant Pecuk-padi hitam
6 Phalacrocorax niger Little Cormorant Pecuk-padi kecil
7 Anhinga melanogaster Oriental Darter Pecuk-ular Asia
8 Ardea cinerea Grey Heron Cangak abu
9 Ardea sumatrana Great-billed Heron Cangak laut
10 Ardea purpurea Purple Heron Cangak merah
11 Egretta alba Great Heron Kuntul besar
12 Egretta intermedia Intermediate Egret Kuntul perak
13 Egretta garzetta Little Egret Kuntul kecil
14 Egretta sacra Reef Egret Kuntul karang
15 Bubulcus ibis Cattle Egret Kuntul kerbau
16 Ardeola speciosa Javan Pond-heron Blekok sawah
17 Butorides striatus Striated Heron Kokokan laut
18 Nycticorax nycticorax Black-crowned Night-heron Kowak-malam kelabu
19 Nycticorax caledonicus Rufous Night-heron Kowak-malam merah
20 Ixobrychus sinensis Yellow Bittern Bambangan kuning
21 Ixobrychus eurhythmus Schrenck's Bittern Bambangan coklat
22 Ixobrychus cinnamomeus Cinnamon Bittern Bambangan merah
23 Dupetor flavicollis Black Bittern Bambangan hitam
24 Mycteria cinerea Milky Stork Bangau bluwok
25 Plegadis falcinellus Glossy Ibis Ibis rokoroko
26 Threskionis melanocephalus Black-headed Ibis Ibis cucuk-besi m
27 Elanus caeruleus Black-winged Kite Elang tikus
28 Haliastur Indus Brahminy Kite Elang bondol
29 Ichthyophaga icthyaetus Grey-headed Fish-eagle Elang-ikan kepala-abu
30 Dendrocygna arcuata Wandering Whistling-duck Belibis kembang
31 Dendrocygna javanica Lesser Whistling-duck Belibis batu
32 Anas gibberifrons Sunda Teal Itik benjut
33 Coturnix chinensis Blue-breasted Quail Puyuh batu
34 Turnix suscitator Barred Button-quail Gemak loreng
35 Galliralus stratus Slaty-breasted Rail Mandar-padi sintar
36 Rallina fasciata Red-legged Crake Tikusan ceruling
37 Rallina eurizonoides Slaty-legged Crake Tikusan kaki-kelabu
38 Porzana pusilla Baillon's Crake Tikusan kerdil
39 Porzana fusca Ruddy-breasted Crake Tikusan merah
40 Porzana cinerea White-browed Crake Tikusan alis-putih
41 Amaourornis phoenicurus White-breasted Waterhen Kareo padi
42 Gallicrex cinerea Watercock Mandar bontod
43 Gallinula chloropus Common Coot Mandar batu
44 Porphyrio porphyrio Purple Swamphen Mandar besar
45 Fulica atra Common Coot Mandar hitam
46 Vanellus macropterus Javan Lapwing Trulek Jawa
47 Pluvialis squatarola Grey Plover Cerek besar m
48 Pluvialis fulva Pacific Golden Plover Cerek kernyut m
49 Charadrius dubius Little Ringed Plover Cerek kalung-kecil m
50 Charadrius alexandrius Kentish Plover Cerek tilil m
51 Charadrius javanicus Javan Plover Cerek Jawa
52 Charadrius ruficapillus Red-capped Plover Cerek topi-merah m
53 Charadrius peronii Malaysian Plover Cerek Melayu m
54 Charadrius veredus Oriental Plover Cerek Asia m
55 Numenius minutus Little Curlew Gajahan kecil m
56 Numenius phaeopus Whimbrel Gajahan pengala m
57 Numenius arcuata Eurasian Curlew Gajahan besar m
58 Numenius madagascariensis Far Eastern Curlew Gajahan timur m
59 Limosa limosa Black-tailed Godwit Biru-laut ekor-hitam m
60 Limosa lapponica Bar-tailed Godwit Biru-laut ekor blorok m
61 Tringa totanus Common Redshank Trinil kaki-merah
62 Tringa stagnatilis Marsh Sandpiper Trinil rawa m
63 Tringa ochropus Green Sandpiper Trinil hijau m
64 Tringa glareola Wood Sandpiper Trinil semak m
65 Tringa hypoleucos Common Sandpiper Trinil pantai m
66 Gallinago stenura Pintail Snipe Berkik ekor-lidi m
67 Calidris ferruginea Curlew Sandpiper Kedidi golgol m
68 Philomachus pugnax Ruff Trinil rumbai m
69 Himantopus leucocephalus White-headed Stilt Gagang-bayam timur m
70 Chlidonias hybridus Whiskered Tern Dara-laut kumis m
71 Chlidonias leucopterus White-winged Tern Dara-laut sayap-putih m
72 Sterna hirundo Common Tern Dara-laut biasa m
73 Sterna dougollii Roseate Tern Dara-laut jambon m
74 Sterna sumatrana Black-naped Tern Dara-laut tengkuk-hitam m
75 Sterna fuscata Sooty Tern Dara-laut sayap-hitam
76 Sterna albifrons Little Tern Dara-laut kecil
77 Sterna bengalensis Lesser Crested Tern Dara-laut Benggala m
78 Treron vernans Pink-necked Green Pigeon Punai gading
79 Ducula aenea Green Imperial Pigeon Pergam hijau
80 Streptopelia bitorquata Island Collared Dove Dederuk Jawa
81 Streptopelia chinensis Spotted Dove Tekukur biasa
82 Geopelia striata Zebra Dove Perkutut Jawa
83 Chalcophaps indica Emerald Dove Delimukan zamrud
84 Psittacula alexandri Red-breasted Parakeet Betet biasa
85 Clamator coromandus Chestnut-winged Cuckoo Bubut-pacar jambul
86 Cuculus saturatus Oriental Cuckoo Kangkok ranting
87 Cocomantis merulinus Plaintive Cuckoo Wiwik kelabu
88 Cocomantis sepulcralis Rusty-breasted Cuckoo Wiwik uncuing
89 Chrysococcyx xanthorhynchus Violet Cuckoo Kedasi ungu
90 Centropus sinensis Greater Coucal Bubut besar
91 Centropus nigrorufus Javan Coucal Bubut Jawa
92 Centropus bengalensis Lesser Coucal Bubut alang-alang
93 Tyto alba Barn Owl Serak Jawa
94 Strix seloputo Spotted Wood-owl Kukuk seloputo
95 Caprimulgus macrurus Largetailed Nightjar Cabak maling
96 Caprimulgus affinis Savanna Nightjar Cabak kota
97 Collocalia esculenta Glossy Swiftlet Walet sapi
98 Collocalia fuciphaga Edible-nest Swiftlet Walet sarang-putih
99 Collocalia maxima Black-nest Swiftlet Walet sarang-hitam
100 Apus affinis Little Swift Kapinis rumah
101 Hemiprocne longipennis Grey-rumped Tree-swift Tepekong jambul
102 Alcedo meninting Blue-eared Kingfisher Raja-udang meninting
103 Alcedo coerulescens Small Blue Kingfisher Raja-udang biru
104 Pelargopsis capensis Stork-billed Kingfisher Pekaka emas
105 Halcyon smyrnensis White-throated Kingfisher Cekakak belukar
106 Todirhamphus sancta Sacred Kingfisher Cekakak suci
107 Todirhamphus chloris Collared Kingfisher Cekakak sungai
108 Merops leschenaulti Chestnut-headed Bee-eater Kirik-kirik senja
109 Merops philippinus Blue-tailed Bee-eater Kirik-kirik laut m
110 Merops viridis Blue-throated Bee eater Kirik-kirik biru
111 Dendrocopos macei Fulvous-breated Woodpecker Caladi ulam
112 Dendrocopos moluccensis Brown-capped Woodpecker Caladi tilik
113 Mirafra javanica Singing Bush-lark Branjangan Jawa
114 Hirundo rustica Barn Swallow Layang-layang api m
115 Hirundo tahitica Pacific Swallow Layang-layang batu
116 Delichon dasypus Asian House-martin Layang-layang rumah
117 Pycnonotus aurigaster Sooty-headed Bulbul Cucak kutilang
118 Pycnonotus goiavier Yellow-vented Bulbul Merbah cerukcuk
119 Aegithina tiphia Common Iora Cipoh kacat
120 Lanius schach Long-tailed Shrike Bentet kelabu
121 Copsychus saularis Oriental Magpie-robin Kucica kampung
122 Megalurus palustris Striated Grassbird Cica koreng Jawa
123 Locustella certhiola Pallas's Warbler Kecici belalang
124 Acrocephalus stentoreus Clamorous Reed-warbler Kerakbasi ramai
125 Acrocephalus orientalis Oriental Reed-warbler Kerakbasi Besar
126 Cisticola juncidis Zitting Cisticola Cici padi
127 Cisticola exilis Golden-headed Cisticola Cici merah
128 Prinia polychroa Brown Prinia Prenjak Coklat
129 Prinia familiaris Bar-winged Prinia Prenjak Jawa
130 Prinia flaviventris Yellow-bellied Prinia Prenjak rawa
131 Prinia inornata Plain Prinia Prenjak padi
132 Orthotomus sutorius Common Tailorbird Cinenen biasa
133 Orthotomus ruficeps Ashy Tailorbird Cinenen kelabu
134 Orthotomus sepium Olive-backed Tailorbird Cinenen Jawa
135 Gerygone sulphurea Flyeater Remetuk laut
136 Rhipidura javanica Pied Fantail Kipasan belang
137 Parus major Great Tit Gelatik-batu kelabu
138 Prionochilus percussus Crimson-breasted Flowerpecker Pentis pelangi
139 Dicaeum concolor Plain Flowerpecker Cabai polos
140 Dicaeum trochileum Scarlet-headed Flowerpecker Cabai Jawa
141 Anthreptes malacensis Brown-throated Sunbird Burung-madu kelapa
142 Nectarinia jugularis Olive-backed Sunbird Burung-madu sriganti
143 Aethopyga mystacalis Violet-tailed Sunbird Burung-madu Jawa
144 Zosterops palpebrosus Oriental White-eye Kacamata biasa
145 Zosterops flavus Javan White-eye Kacamata Jawa
146 Zosterops chloris Lemon-billed White-eye Kacamata laut
147 Amandava amandava Red Avadavat Pipit Benggala
148 Lonchura leucogastroides Javan Munia Bondol Jawa
149 Lonchura punctulata Scaly-breasted Munia Bondol peking
150 Lonchura maja White-headed Munia Bondol haji
151 Lonchura malacca Black-headed Munia Bondol rawa
152 Lonchura ferruginosa Chestnut Munia Bondol oto-hitam
153 Padda oryzivora Java Sparrow Gelatik Jawa
154 Passer montanus Tree Sparrow Burung-gereja Erasia
155 Ploceus manyar Streaked Weaver Manyar jambul
156 Ploceus philippinus Baya Weaver Manyar tempua
157 Ploceus hypoxanthus Asian Golden Weaver Manyar emas
158 Sturnus contra Asian Pied Starling Jalak suren
159 Acridotheres javanicus White-vented Myna Kerak kerbau
160 Dicrurus annectans Crow-billed Drongo Srigunting gagak
161 Artamus leucorynchus White-breasted Wood-swallow Kekep babi
162 Crypsirina temia Racquet-tailed Treepie Tangkar cetrong
163 Corvus enca Slender-billed Crow Gagak hutan
164 Corvus macrorhynchos Large-billed Crow Gagak kampung
keterangan:
m=migran (jenis pendatang);
B. MAMALIA
NO. FAMILI NAMA ILMIAH NAMA LOKAL
1 CERCOPITHECIDAE Macaca fascicularis Monyet ekor panjang
2 CERCOPITHECIDAE Trachypithecus auratus Lutung Jawa
3 FELIDAE Felis bengalensis Kucing kuwuk
4 FELIDAE Felis viverrina Kucing bakau
5 MUSTELIDAE Aonyx cinerea Sero
6 MUSTELIDAE Lutra lutra Berang-berang pantai
7 MUSTELIDAE Lutragale perspicillata Berang-berang Wregul
8 SUIDAE Sus scrofa Babi
9 VIVERRIDAE Herpestes javanicus Garangan Jawa
10 VIVERRIDAE Prionodon linsang Linsang
11 VIVERRIDAE Paradoxurus hermaproditus Musang Luwak
C. IKAN
NO. FAMILI NAMA ILMIAH NAMA LOKAL
1 APLOCHEILIDAE Aplocheilus panchax Kepala timah
2 BELONTIIDAE Trichogaster trichopterus Ikan Sepat
3 CENTROPOMIDAE Lates calcarifer Ikan Kakap
4 CHANNIDAE Chanos chanos Ikan Bandeng
5 CHANNIDAE Channa micropeltes Ikan Gabus
6 CICHLIDAE Oreochromis nilotichus Ikan Mujair
7 ELEOTRIDIDAE Oxyeleotris marmorata Ikan Blosok
8 MORINGUIDAE Moringua javanica Sidat
9 MUGILIDAE Mugil cephalus Ikan Blanak
10 PERIOPTHALMIDAE Periophtalmus sp. Ikan Glodok
11 PLOTOSIDAE Plotosus canius Ikan Sembilang
D. REPTIL DAN AMPHIBI
NO. FAMILI NAMA ILMIAH NAMA LOKAL
REPTIL
1 VARANIDAE Varanus salvator Biawak
2 COLUBRIDAE Cerberus rhnchops Ular tambak
3 ACROCHORIDAE Acrochordus granulatus Ular kadut
AMPHIBI
1 BUFONIDAE Bufo melanostictus Kodok buduk
E. TUMBUHAN
NO. FAMILI NAMA LATIN NAMA LOKAL
1 ACANTHACEAE Acanthus ilicifolius Jeruju semak
2 ACANTHACEAE Acanthus ebracteatus Jeruju
3 APOCYNACEAE Cerbera manghas Bintaro
4 AMARYLLIDACEAE Crinum asiaticum Bakung
5 ASCLEPIADACEAE Gymnanthera paludosa
6 ASCLEPIADACEAE Finlaysonia maritima
7 ASTERACEAE Plucea indica Beluntas
8 AVICENNIACEAE Avicennia alba Api-api
9 AVICENNIACEAE Avicennia marina Api-api
10 AVICENNIACEAE Avicennia officinalis Api-api
11 AZOLLACEAE Azolla pinnata
12 BOMBACEAE Camptostemon philippinense
13 BOMBACEAE Ceiba pentandra Randu
14 COMBRETACEAE Terminalia catappa Ketapang
15 CONVOLVULACEAE Ipomea aquatica Kangkung
16 GRAMINEAE Phragmites karka Glagah
17 GRAMINEAE Oryza sativa Padi
18 GRAMINEAE Eleucharis dulcis
19 LECYTHIDACEAE Barringtonia asiatica Butun
20 MALVACEAE Hibiscus tiliaceus Waru laut
21 MALVACEAE Thespesia populnea Waru laut
22 MELIACEAE Xylocarpus moluccensis Niri
23 MENYANTHACEAE Nympoides indica
24 MYRSINACEAE Aegiceras corniculatum Kacang-kacangan
25 NYMPHACEAE Nymphaea sp.
26 PALMAE Nypa fruticans Nipah
27 PALMAE Cocos nucifera Kelapa
28 PALMAE Areca catechu Pinang
29 PONTEDERIACEAE Eichhornia crassipes Eceng Gondok
30 PTERIDACEAE Acrostichum aureum Paku laut
31 PTERIDACEAE Acrostichum speciosum Paku laut
32 RUBIACEAE Morinda citrifolia Mengkudu
33 RHIZOPHORACEAE Bruguiera sexangula Tancang
34 RHIZOPHORACEAE Rhizophora apiculata Bakau
35 RHIZOPHORACEAE Rhizophora mucronata Bakau hitam
36 RHIZOPHORACEAE Rhizophora stylosa Bakau
37 SONNERATIACEAE Sonneratia alba Pedada
38 SONNERATIACEAE Sonneratia caseolaris Pedada
39 SONNERATIACEAE Sonneratia ovata Bogem
40 TYPHACEAE Typa angustifolia
41 VERBENACEAE Stachytarpheta jamaicensis
Subscribe to:
Comments (Atom)